Pekarangan membentuk kebudayaan—sebagai jembatan antara hutan dan pertanian. Dalam konteks kebudayaan agraris, keduanya tak terpisahkan sebagai sebuah mata rantai (budaya) agraris. Pelan-pelan, dalam suatu rentang waktu, pekarangan diwariskan, dibagi, dan diperjualbelikan, serta lantas menjelma halaman rumah.
Halaman rumah adalah orientasi arsitektural orang Indonesia. Ia sebentuk pengertian luas dalam alam pikir mutakhir Nusantara—sebagaimana buku ini memulung beberapa perspektif yang nostalgis hingga praktis dari Flores, Makassar, Solo, Yogyakarta, dan tempat lainnya. Halaman bisa menjadi ruang ekspresi, berfungsi sebagai panggung, ruang produksi, lanskap, hingga ranah pertukaran gagasan.
Buku yang melibatkan dua puluhan peneliti, seniman, pengacara, dosen, pekerja sosial dan seni, dan mahasiswa ini terbit atas kerjasama Tanahindie - Arts Collaboratory - Stichting Doen - Penerbit Ininnawa.
----
Yard contructed culture--as a transition between woods and agriculture. In the agricultural context, both are inseparable as links of agricultural chain. As time goes by, yard was inherited, distributed, and traded.
Eventually, yard become home yard; representation of what remains from the domination of house over yard. The home yard became the sign of urbanism presence.
House yard is the orientation of Indonesian people architectural. It became a kind of general meaning in latest Nusantara mind--just like this book picked up various nostalgic to practical perspectives from Flores, Makassar, Solo, Yogyakarta, and other places. Yard can become a space fro expression, functions as a stage, a lanscape, a production room, even a domain for an exchangement of ideas.