Namaku Rizki. Aku masih terlalu mentah tatkala ditinggalkan di sebuah panti asuhan bersama dengan kedua-dua adik perempuanku yang masih kecil. Ibuku masih hidup, tetapi itulah detik terakhir aku melihatnya, sementara ayah telah lama pergi, mati ditembak.
Panti asuhan ini bukan tempat perlindungan selayaknya. Ia penjara yang menakutkan. Tak perlu menunggu esok untuk kami merasai hal-hal mengerikan. Hari pertama, kami kehilangan percaya pada kemanusiaan.
Kalian, ketika seusia kami, sedang berbuat apa?
Inilah ceritaku. Tidak semua mahu ambil tahu dan mendengarkan. Inilah kisahku, tentang hadiah terbaik—yang mengajar kita untuk tumbuh, berdamai, dan mencintai dengan lebih tulus.