Agama dan ilmu pengetahuan sering kali berhadapan sebagai musuh. Perdebatan yang menempatkan agama dan ilmu pengetahuan sebagai titik-titik yang dikotomis telah dimulai ratusan tahun yang lalu.
Ilmuwan menuduh agama telah menghambat pertumbuhan ilmu pengetahuan dan potensi kecerdasan yang sangat dibutuhkan bagi kesejahteraan hidup umat manusia. Sebaliknya, agamawan menyalahkan ilmu pengetahuan sebagai penyebab terjadinya kerusakan tata nilai normatif, penurunan kualitas moralitas, dehumanisasi, dan pendangkalan makna-makna kehidupan spiritual yang bersifat transenden. Kenyataannya, pengetahuan menafikan eksistensi agama memang ada dan telah terjadi. Dalam Hal ini teori Darwin adalah contoh paling gamblang.
Telah sekian lama teori Darwin menebarkan paham yang menyesatkan dengan menyatakan bahwa kehidupan ini terjadi hanya karena faktor kebetulan. Tidak ada proses penciptaan, yang berarti pula tidak ada Tuhan. Manusia sebagai makhluk paling sempurna dikatakan Darwin hanya merupakan hasil peralihan dari hewan, yaitu kera.
Paham yang kebenarannya tidak dapat dipertanggungjawabkan ini telah menyebar ke seluruh dunia melalui berbagai media. Bahkan, Darwinisme kini ubahnya agama yang dianut dengan ketaatan buta. Padahal, berbagai penemuan mutakhir telah membuktikan bahwa Darwinisme tak lebih dari penipuan belaka. Akan tetapi, para pemeluk agama ini tidak pernah peduli dengan kebenaran yang nyata.
Buku berjudul Agama Darwinisme ini mengungkap bagaimana agama Darwinisme diciptakan, penyimpangan-penyimpangan di dalamnya, dan penyebar luasannya.